Garut, Just Feels Like Home…

Faktanya, tak satupun dari leluhur saya ada yang berasal dari Garut atau daerah lain di tatar pasundan. Saya terlahir sebagai ‘arek jatim’ dari bapak dan ibu yang jawa sekali. Namun, sejak seorang sahabat saya -sebut saja Gulam- mengajak pulang ke kampung halamannya di Leles, Garut beberapa tahun lalu, sejak saat itulah saya langsung jatuh hati pada keelokan tempat ini -dan kebaikan hati tetehnya yang setaraf malaikat pemberi rezeki.🙂

Adalah sinetron klasik Keluarga Cemara yang tayang di dekade 90-an, yang membuat saya tergila-gila dengan suasanya kehidupan desa yang permai dengan orang-orangnya yang berbicara dalam bahasa sunda yang kental -di telinga saya, bahasa sunda adalah bahasa yang terdengar paling seksi sedunia! Dan Leles, adalah gambaran yang hampir sempurna dari imajinasi masa kecil saya. Di mana sejauh mata memandang yang terlihat hanya gunung, sawah hijau luas membentang, empang-empang yang dipenuhi ikan, sungai jernih dengan suara-suara tawa gadis desa -well, mayoritas sih ibu-ibu paruh baya, tapi okelah- yang sedang asyik mencuci atau mandi, lalu-lalang delman, dan wajah-wajah yang penuh senyuman.

Tak terhitung rasanya saya dan teman-teman bertandang ke sini. Dan bukannya jemu, yang ada hanya keinginan untuk kembali lagi, lagi dan lagi. Kadang, dengan dalih ingin bersilaturahmi ke rumah teh Ani, kami melampiaskan hasrat kerinduan akan tempat ini. Tak masalah meskipun, ritual yang kami lakukan setiap edisi hampir selalu sama : jalan-jalan menyusuri pematang sawah, menikmati bala-bala hangat di atas empang, naik rakit ke candi Cangkuang. Bagi orang lain, mungkin semua itu terasa membosankan. Tapi bagi kami, justru romantisme itulah yang kami rindukan, selayaknya kampung halaman. *nunggu ditoyor teh Ani*

Situ Cangkuang

Situ Cangkuang

Situ Cangkuang

Situ Cangkuang

Hamparan Sawah

Hamparan Sawah

Rakit

Rakit

Empang

Empang

Sawah Berlatar Gunung Guntur

Sawah Berlatar Gunung Guntur

Menyusuri Pematang Sawah

Menyusuri Pematang Sawah

Skyline

Skyline

Memori Romantisme Makau

[Oktober 2011]

Hari ini adalah jadwal saya menyeberang ke Makau setelah dua hari berkeliling Hongkong. Kalau ada yang tanya,“Ah tapi kan lo belum ke Disney Land-nya, masuk museum lilin Madam Tussaud juga belum. Nyobain naik cable car ke patung Buddha yang segede dosa itu apalagi.” Ya lalu kenapa? Setiap momen perjalanan selayaknya menjadi urusan yang sangat personal, dan tidak harus mengikuti segala hal yang ditawarkan guide book. Kalau ke daerah ini harus mencoba ini, makan di restoran itu atau merasakan wahana anu. Tidak. Setiap pejalan mempunyai hak untuk merayakan perjalanannya masing-masing. Dan memang seharusnya begitu. *alibi dari seorang pejalan kere*

Ngomong-ngomong, pelabuhan penyeberangannya keren juga. Terletak di dalam mall yang trendi, dengan lantai licin, interior oke, ada fasilitas lift dan segalanya *mendadak norak* yang niscaya akan membuat pelanggan setia pelabuhan Merak sakit hati jika melihatnya.

Tidak ingin repot di belakang, sebelum membeli tiket kapal saya memutuskan untuk menukarkan sisa terakhir beberapa lembar dolar hongkong ke mata uang lokal Makau -pataca. Alih-alih berpikir panjang untuk berkeliling agar mendapatkan harga yang paling sesuai, mata saya tertuju pada sebuah kios penukaran valas  yang dijaga oleh gadis manis berwajah mirip Freida Pinto. Saya pun mendekati kios itu, dan mengamati daftar nilai tukar valas yang dijual. Hmm… not bad.

Sekilas, kami larut dalam obrolan singkat yang menyenangkan dan ya, sedikit mengejutkan. Setelah beberapa pertanyaan standar seperti ‘dari mana’, ‘mau kemana’, ‘mau ngapain’, akhirnya dengan mimik ‘ealah-rek-tibake-tonggo dhewe-tah’ dia bilang,“Eh, Mas, aku juga dari Indonesia lho. Dari Madiun.”

*kemudian hening*

Entahlah, tapi rasanya saya hanya ingin mengunyah lembaran-lembaran pataca saja saat itu. Maksud saya, ayolah.. saya sudah bersusah payah terlihat ganteng dengan belepotan ngobrol menggunakan bahasa inggris -yah walaupun itu tidak banyak membantu- dan ternyata di akhir cerita ternyata lawan bicara kita adalah orang jawa juga itu sungguh menyebalkan.

Ternyata awalnya dia mengira saya ini pinoy. Dan bodohnya saya juga mengira dia bukan orang Indonesia. Batin sotoy saya mengatakan, mungkin Malaysia atau juga Filipina. Namun, justru dari sinilah obrolan kami berdua makin intim. Dia bercerita banyak tentang kehidupan barunya di negeri orang. Mulai dari mendapat status permanent resident, pekerjaan yang lumayan dengan bos [arab bo’] yang baik hati, sampai acara liburan rutinnya nonton gelaran MotoGP di Sepang, Malaysia. Mungkin karena dia yang begitu bersemangat bercerita, tanpa sadar saya pun ikut-ikutan senang mendengarnya. Setidaknya, dari kisahnya saya tahu bahwa tak selamanya kawan-kawan TKI bernasib suram.

Singkat cerita, keasyikan obrolan kami meski terhenti karena terbatasnya waktu. Sebelum bergegas ke gerbang imigrasi, saya melambaikan tangan dan melempar senyum selamat tinggal termaut saya padanya. Oh, tanpa embel-embel janji one night stand tentu saja.

Saya bersyukur proses imigrasi kali ini berjalan lancar-lancar saja. Tidak ada kejadian menegangkan  seperti saat saya baru tiba di bandara internasional Hongkong kemarin itu. Meskipun berakhir melegakan, tetap saja ransel digeledah dan diinterogasi layaknya seorang tertuduh begitu membuat saya sempat lemas juga. Hanya pertanyaan kecil dari salah seorang petugas yang sedikit bingung dengan nama saya.“Kamu tidak punya marga? Masa sih? Marga seperti punya saya ini?”, tanyanya kekeuh sambil menunjuk ke nama dadanya.

Mengingat jaraknya yang cuma ‘sepelemparan beha’, perjalanan laut dari Hongkong ke Makau terbilang cukup singkat, hanya butuh kurang lebih satu jam. Dan teman sebangku saya kali ini adalah seorang nenek-nenek ramah. Ingin hati ngobrol panjang lebar, hati ke hati dengannya. Namun apa daya, keterbatasan bahasa nyata-nyata telah menciptakan jurang pemisah di antara kita. *ini apa deh?*  Saat dia menanyakan apa saya jawabnya apa. Dan saat saya tanya balik apa dia juga jawab apa. Ga nyambung. Begitu saja terus sampai saya senewen sendiri. Dan mungkin dia juga. Menyadari bahwa sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kita, akhirnya kami menyudahi percakapan absurd ini. Si nenek memilih tidur, dan saya asyik dengan gadget saya.

Saya tiba di Macau Ferry Terminal tengah hari, tepat saat cuaca sedang panas-panasnya. Tanpa berlama-lama, saya mencari shutte bus untuk menuju pusat kota. Ada banyak sekali shuttle bus tersedia di sini, dengan rute-rute strategis seperti rute ferry terminal-hotel/kasino-bandara dan lainnya. Dan semuanya gratis! Tentu saja fasilitas ini begitu memanjakan pejalan bersahaja, seperti saya. Selebihnya, saya memilih berjalan kaki untuk mengeksplorasi keindahan negeri yang kental akan nuansa klasik ini -yang luasnya tak lebih dari 30 km persegi.

Augusters Lodge. Hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di pusat kota adalah mencari penginapan ini. Menurut buku panduan yang saya imani, penginapan ini terletak di rua [jalan kecil] do Dr.Pedro Jose Lobo. Andai mata jeli, mudah saja menemukan lodge mungil yang letaknya di tengah-tengah deretan ruko ini. Sayang, saya tidak mempunyai tipe mata seperti itu. Entah berapa kali saya mondar-mandir di daerah itu, membuang-buang waktu hanya demi menemukan plang bertuliskan ‘Augusters Lodge’.

Jika urusan transportasi saya mengandalkan shuttle bus gratis dan jalan kaki, maka untuk urusan akomodasi saya mengandalkan faktor hoki. Alih-alih memesan secara online jauh-jauh hari, saya datang ke Augusters Lodge hanya sebagai walk-in customer. Angela, si resepsionis, bilang kalau tidak lagi bed kosong. Namun dengan baik hati dia menawarkan kasur lipat dan bisa tidur di ruang resepsionis seharga 60 pataca, kalau saya mau. Yang benar saja, sudah pasti saya mau. Apalagi [masih] menurut buku panduan, dengan fasilitas yang sama si penulis harus membayar 125 pataca. Kasur lipat, tidur di ruang resepsionis: 125 pataca. Dan saya, hanya perlu membayar setengahnya. Hahaha…

Mendapat tempat ‘spesial’ di ruang resepsionis, mau tidak mau membuat saya jadi banyak ngobrol dengan Angela. Ya, Angela memang tipe resepsionis yang ramah dan sangat suka ngobrol. Bahkan kadang -entah keceplosan atau apa- terselip sedikit curcol seolah saya ini sahabat lamanya yang hilang. Selain Angela, teman ngobrol saya saat itu adalah sesama tamu. Jaymi yang asal Filipina dan Kwan, gadis tomboi asal Hongkong.

Senado Square.  Sepanjang sore saya menghabiskan waktu dengan kongkow ganteng di melting point paling hype ini, dan keluar masuk menyusuri gang-gang kecil [travessa] yang eksotis dengan jalan batu dan sekuter-sekuternya, sambil tanpa risih mampir dari satu toko ke toko lain untuk nyemilin sampel kue. Tak ketinggalan mengunjungi situs-situs kuno yang selama ini menjadi daya tarik wisata Makau -selain kasino tentunya. Entah ada berapa lusin situs bersejarah yang berserakan di sekitar Senado Square. Namun beberapa yang menarik perhatian saya adalah Catedral,  gereja St. Dominic dan tentu saja sang landmark, ruins of St. Paul. Sungguh, bangunan bekas gereja yang hanya menyisakan bagian fasadnya ini mau dilihat dari sisi manapun dan kapanpun tetap saja eksotis.

Senado Square

Senado Square

Senado Square

Senado Square

Catedral

Catedral

Satu hal yang saya suka dari traveling adalah getting new friend. Seperti malam itu, setelah sok iyes keluar masuk kasino -saat sedang menikmati baca-baca di pelataran Catedral- tiba-tiba Jaymi dan Kwan menghampiri, mengajak saya untuk ikut bergabung bersama teman barunya. Tidak perlu pikir panjang untuk mengamini ajakan ini.  Karena jelas, hangout bersama teman-teman baru bakal jauh lebih seru ketimbang sekadar membaca buku.

Dan malam itu saya kembali mendapat dua teman baru, Andrey pemuda Rusia yang sedang tergila-gila dengan negara China dan Lisa dari Jerman -yang lucunya, sedikit sinis terhadap China. Berempat, hanya bermodalkan cemilan dan minuman yang kita beli ramai-ramai di sebuah supermarket ‘rahasia’ yang ditemukan Kwan, kami nongkrong dari satu tempat ke tempat lain, sepanjang malam hingga pagi menjelang.

Tempat pertama yang kita satroni adalah ruin of St. Paul. Melihat keakraban kita, mungkin orang tidak akan mengira kalau kami ini hanyalah sesama pejalan yang baru saja saling mengenal hari itu -bahkan dua di antaranya baru kenal beberapa menit sebelumnya. Tapi begitulah kenyataannya, kita mengobrol banyak sekali hal. Dari yang sok mendiskusikan persoalan dunia seolah kami adalah para delegasi PBB sampai bercerita tentang negara masing-masing. Seperti anak SD, kami duduk melingkar dan bergiliran cerita satu persatu. Seru. Ngobrol tentang agama juga. Oh, tentu saja bukan debat. Semua sepakat kalau kami benci debat. Hanya saja mereka begitu penasaran dengan islam lantaran malam itu, dari kita berlima cuma saya seorang yang tidak ikutan ngebir -malah dengan imutnya memilih minum susu coklat. Saya jelaskan, bahwa di islam mengonsumsi minuman beralkohol itu haram, begitu juga daging babi. Dari situ, mereka semakin tertarik dan berlanjut dengan berbagai pertanyaan lain tentang islam. Di satu sisi saya senang bisa sedikit mengampanyekan islam ke teman-teman yang berlatar belakang keyakinan berbeda, secara positif. Begitu juga mereka, tidak ada sama sekali yang merasa sok benar, apalagi menghakimi. Namun di sisi lain, kok rasanya beban moral juga. Mengingat selama ini saya tak lebih dari seorang pendosa belaka.

Dingin malam dan waktu seolah tidak terasa malam itu, berkat obrolan-obrolan seru dan candaan-candaan konyol yang sukses bikin perut kram. Untuk hal yang satu ini, Andrey lah sang jawara dengan banyolan-banyolan ajaibnya. Hanya satu hal yang membuat kami terpaksa beranjak dari tempat ini: semakin malam semakin banyak anjing.

Dari St. Paul, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan yang belum tuntas ini di teras Catedral. Haha-hihi lagi sampai mulut berbuih, dan asyik ngebir tanpa perasaan sungkan dengan patung Isa Almasih yang berdiri bersahaja di depan kami. Dan kali ini yang membuat kami terpaksa berdiri dari sini adalah rasa lapar yang melanda. Kami membeli penganan -semacam siomay namun berbumbu cuka- dan dimakan beramai-ramai di taman kota, yang sekaligus menjadi ‘last supper’ bagi kami. Karena di sinilah, pagi itu, dengan perasaan sedih -dan ngantuk- kami semua harus berpisah. Setelah mencatat alamat email masing-masing, saling memberikan pelukan perpisahan, saya, Jaymi dan Kwan kembali ke Augusters lodge, sementara Andrey dan Lisa ke penginapannya. Ah, sungguh saya menyukai pertemuan tak terduga ini. Menukil istilahnya Kwan, we’re met by the fate.

not strangers anymore

not strangers anymore

macau2 macau3

Hari kedua saya berencana pergi ke daerah Taipa untuk mengunjungi mall-mall mahagede The Venetian dan City of Dream, sebelum terbang kembali ke Kuala Lumpur malam harinya. Namun rencana tinggalah rencana, karena kecapean, sepagian saya cuma duduk-duduk malas di Senado Square sambil mengamati orang lalu-lalang sampai akhirnya laku bosan sendiri.

Siangnya saya mampir ke kedai Margaret’s cafe e natta yang konon menjual kue egg tart terlezat seantero Makau. Gigitan pertama saat itu sekaligus menjadi pengalaman pertama saya mencicipi kue lezat khas portugis ini. Beruntung salah satu toko roti di bilangan R.E Martadina, Bandung juga menjual egg tart dengan citarasa yang lumayan mirip. Jadi, jika sudah merasa rindu akan romantisme Makau, saya cukup rendevouz ke sini.

Menyusuri The Venetian sore harinya menjadi penutup perjalanan saya di Makau. Tidak banyak yang saya lakukan di sini, selain mondar-mandir mengagumi arsitekturnya dan kanal-kanal buatan yang lengkap dengan gondolanya. Sedikit hiperbola, saya sampai tidak sedang berada di belahan bumi Asia, melainkan Italia. Belum lagi ditambah efek nyanyian pengemudi gondola yang bersuara sopran itu. Beuh… bikin merinding. Melirik sedikit, itu Patricio Buane bukan, ya?

Ah, ternyata sipit juga.

Gondola di The Venetian

Gondola di The Venetian

Macau Tower

Macau Tower

Macau International Airport. Lagi-lagi, karena luas negara Makau yang tidak seberapa saya hanya perlu berjalan kaki sebentar dari The Venetian untuk sampai di bandara ini.  Di dalam boarding lounge, sambil menunggu penerbangan ke Kuala Lumpur saya masih senyum-senyum sendiri mengingat dua hari terakhir yang menyenangkan ini. Betapa saya menyukai negeri mini ini, bangunan-bangunan tuanya, travessa-nya, makanannya. Dan tentu saja orang-orang menyenangkan yang saya jumpai.

Ruins of St. Paul

Ruins of St. Paul

Ruins of St. Paul

Ruins of St. Paul

Ruins of St. Paul

Ruins of St. Paul

Kangean, Surga Dunia di Timur Madura

[Oktober 2013]

Tak terasa hampir satu jam saya terlelap di atas perahu dalam perjalanan dari dermaga Pajenayasem di pulau Kangean menuju pulau Bungin Nyarat. Sebuah pulau mungil di gugusan kepulauan Kangean. Dan ketika membuka mata, seolah mendapat sambutan hangat, saya mendapati pemandangan senja yang begitu cantik. Dengan matahari yang hampir tenggelam di balik horizon. Kemilau warna jingga yang memenuhi angkasa. Hanya perlu siluet perahu nelayan yang sama-sama hendak berlabuh untuk menggenapi. Dan.., klik!

Di pulau Bungin Nyarat inilah saya dan teman-teman akan bermalam, beristirahat melepas penat setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang -apalagi bagi beberapa teman yang rela terbang jauh dari Medan dan Aceh- dan sedikit menguji iman, demi sebuah pembuktian. Pembuktian atas surga dunia yang belum terjamah. Dan karena Bungin Nyarat bukanlah daerah wisata -setidaknya untuk saat ini, entah lagi suatu saat nanti- jadi wajar-wajar saja jika tidak ada penginapan khusus di pulau padat penduduk ini. Mas Dar, orang yang akan menjadi guide selama kami di Kangean, menjadikan rumah sederhananya sebagai hotel dadakan bagi kami, turis-turis kota ini.

tiba di pulau bungin nyarat

tiba di pulau bungin nyarat

 

disambut senja

disambut senja

 

disambut senja [2]

disambut senja [2]

A Long Way To Heaven…

Entah setan apa yang merasuki pikiran kami saat dulu, dulu sekali, memutuskan untuk pergi ke daerah antah-barantah bernama Kangean ini. Sebuah gugusan kepulauan yang jujur saja, saya juga baru tahu saat itu kalau letaknya ternyata [masih] di kabupaten Sumenep, Madura. Sebagai orang Jawa Timur -well, setidaknya saya lahir dan tumbuh besar di sana- tentu saja saya merasa gagal. Melengkapi status kegagalan saya sebagai arek Jatim yang belum pernah menginjakkan kakinya di puncak Mahameru. Singkat cerita, setelah saling meracuni satu sama lain, sepakatlah kami bersembilan untuk melakukan perjalanan militan ke Kangean. Sekaligus sebagai ajang reuni memperingati satu tahun perjalanan kami ke Rinjani.

Meskipun secara administratif kepulauan Kangean termasuk dalam kabupaten Sumenep. Namun, tidak mudah juga bagi kami untuk bisa menuju ke sini. Dari terminal Purabaya di Surabaya kami naik bus patas -namun dengan kondisi yang jauh dari kata layak- menuju Kalianget yang terletak di ujung timur pulau Madura. Selama empat jam saya hanya bisa tidur-tidur ayam sambil senantiasa berusaha menepis angin malam yang menampar-nampar muka sepanjang perjalanan. Iya, kenek bus sialan itu, yang sudahlah jelek, genduk dan jutek, dengan tololnya memilih membuka lebar-lebar jendela bus tanpa mempedulikan tampang-tampang menyedihkan penumpang di bangku paling belakang yang melempem keanginan. Bahkan saking tololnya, ketika kami tiba di Kalianget subuh buta, cara kenek bus waktu menurunkan penumpang seperti orang sedang menurunkan kambing. Ck!

Beruntung, begitu tiba di Kalianget ini kami dipertemukan dengan orang-orang berhati mulia. Adalah beberapa penduduk lokal yang terheran-heran dengan adanya sekumpulan pemuda asing dengan muka-muka kuyu yang subuh itu keleleran di masjid kampung. Awalnya, dengan sumringah mereka mengira kami ini adalah kelompok mahasiswa yang ingin melakukan semacam riset atau kegiatan bermuatan sosial di Kangean. Namun, dengan rendah hati kami harus menjelaskan bahwa kami tidak semulia, dan semuda itu. Alih-alih sekumpulan pemuda pembawa angin perubahan, kami ini hanyalah rombongan pejalan yang ingin menikmati keindahan alam Kangean. Itu saja. Toh, mereka tidak lantas memercayainya begitu saja. Wajar, karena betapa selama ini orang hampir tidak pernah mengenal Kangean sebagai daerah wisata. Bahkan, saat searching di mbah google pun sedikit sekali literatur yang menyebutkan tentang pesona wisata Kangean. Kalah telak oleh laman sebuah perusahaan pertambangan migas, Kengean Energy Indonesia.

Entah atas dasar kasihan atau apa, sang imam masjid malah menawarkan [dengan sedikit keukeuh, sungguh!] kepada kami untuk singgah sejenak di rumahnya. Sekadar numpang mandi dan meluruskan kaki sembari menunggu kapal, bujuknya. Kami pun tak enak hati untuk menolaknya. Tapi begitulah, dasarnya kami ini musafir-musafir tidak tahu diri, begitu sampai di rumahnya -yang hanya ditinggali berdua oleh sang imam masjid yang sudah tua dan istrinya- dan melihat kasur nganggur, tak seorang pun dari kami yang ragu untuk langsung merebahkan diri dan melanjutkan tidur yang tak tuntas. Entahlah, kemana pula perginya rasa malu kami tadi? Tertinggal di masjid, mungkin…

Ternyata itu belum seberapa, pasangan tua nan baik hati yang mengingatkan saya akan Carl Fredricksen dan istrinya, Ellie di film Up! ini kembali membuat kami semakin tidak tahu diri dengan repot-repot membelikan nasi untuk sarapan segala, menyajikan milo hangat [Ya Tuhan, berkatilah mereka ini], sampai menelepon travel agent begitu mendengar cerita pilu kami tentang bus patas sialan itu. Dari sini wawasan saya langsung terbuka lebar. Bahwa Madura tidak hanya identik dengan juragan besi loaknya, sotonya, bebek sinjaynya, atau satenya. Tapi di sebagian masyarakatnya, saya menemukan keramahan yang luar biasa.

Bungin Nyarat masih jauh dari pandangan. Dari pelabuhan Kalianget, kami masih harus menyeberang ke pulau Kangean selama sekitar empat jam dengan kapal cepat. Terasa lama? Tidak juga. Karena hanya dengan menenggak dua butir antimo saya bisa terlelap dengan sangat pulas dan bangun-bangun sudah tidak suci lagi sampai di pelabuhan pulau Kangean. Tanpa mual-mual, pening, apalagi sampai jackpot. Nah, justru tantangan sebenarnya ada pada perjalanan selanjutnya. Menggunakan moda transportasi khas lokal, semacam mobil bak terbuka yang dimodifikasi sedemikian rupa, selama dua jam, dengan jalanan yang didominasi tanah berdebu -jangan harap ada jalan aspal semulus paha Nikita Willy di sini- kita membelah pulau dari ujung ke ujung menuju dermaga Pajenayasem. Dan begitu tiba, voilaaa… penampakan saya semakin mirip pria Timbuktu. Kriwill bluwek dengan badan penuh debu.

bersama pak imam

bersama pak imam

 

baru tiba

baru tiba

 

dermaga pajenayasem

dermaga pajenayasem

 

 

… …

Exploring heaven. Selepas sarapan nikmat dengan lauk ikan bakar dan sambal bikinan istri mas Dar, kami memulai misi pembuktian ini. Tentu saja tak satupun dari kami ada yang berekspektasi macam-macam. Berharap kemolekan bawah laut atau pantai-pantainya setara Raja Ampat atau apa. Tidak. Bahkan, saya kagum dengan motivasi sederhana dari seorang Tesa yang sama sekali tidak mempersoalkan taraf keindahan alam Kangean. Asalkan bisa liburan di luar Sumatra Utara dan tempat baru, itu sudah lebih dari cukup. Dipandu mas Dar menggunakan perahu motornya, kami berkeliling dari satu pulau ke pulau lain mencari spot-spot snorkeling.

Tempat pertama yang kami datangi adalah pulau Sebuntan. Snorkeling sebentar saja di sini, lalu lanjut ke pulau Paliat. Untuk kedua spot ini, terus terang terumbu karangnya biasa bingit. Bahkan, sedihnya di sana-sini banyak yang hancur akibat kegiatan pengeboman ikan. Beranjak siang, mas Dar mengarahkan perahu menuju pulau gosong Salarangan. Pulau eksotis dengan pantai berpasir putih dan air laut yang sejernih hati biarawati. Sesiangan kami beristirahat, gegoleran di pasir sekaligus menikmati bekal makan siang. Seorang penduduk dengan muka penasaran -dan sedikit sangar- tiba-tiba menghampiri kami. Saya sudah ngeri sendiri mengira jangan-jangan dia ini preman pulau yang tidak suka dengan kedatangan kami dan mau ngajak ribut. Ternyata saya salah. Di balik wajah sangarnya, tersimpan keramahan yang tiada terduga. Tanpa pamrih dia memandu kami berkeliling pulau, termasuk dengan antusias menunjukkan -yang menurutnya- pohon keramat yang ada di tengah kampung. Tentu saja reaksi saya hanya diam-diam memutar bola mata. Bukannya saya tidak tertarik dengan penampakan pohon yang memang tampilannya biasa saja itu atau tentang cerita mistis di dalamnya. Tapi saat itu saya lebih butuh warung makan daripada seonggok pohon. Saya lapar.

Highlight hari itu tentu saja snorkeling sore di perairan pulau Bangko. Terumbu karang dan ikan-ikannya me-nak-jub-kan!

Di hari kedua ini kami bermalam di pulau Saur, masih menginap di rumah penduduk. Dan lagi-lagi saya merasa tertampar dengan keramahan dan kebaikan orang-orang sini. Rasanya baru di sini saya menemui penduduk yang mau-maunya gelap-gelapan mengantar-jemput tamu yang tidak jelas juntrungannya hanya supaya si tamu bisa mandi dengan air tawar yang ketersediaannya saja terbatas, bahkan rela meminjamkan baju istrinya untuk dipakai si tamu. Jujur saya benar-benar malu. Malu karena saya sadar saya tidak sewelas asih dan setulus mereka. Kalau boleh menyalahkan, kehidupan kota yang serba pragmatis lah yang telah membuat saya menjadi pribadi yang egois.

gosong salarangan

gosong salarangan

 

having lunch

having lunch

 

putra timbuktu

putra timbuktu

 

senja di pulau saur

senja di pulau saur

 

The next day. Hari ini kami berlayar ke pulau Seibus. Menurut pengakuan mas Dar, inilah spot snorkeling terbagus di gugusan kepulauan Kangean. Yang memang benar saja, saat saya menceburkan diri ke dalam air, ucapan mas Dar itu bukan isapan jempol belaka. It’s more than just beautiful! Sebuah taman laut yang teramat indah dan perawan terpampang nyata di depan mata. Mendadak semua orang berubah jadi dugong, yang sibuk berenang ke sana-kemari seolah tidak mau lagi keluar dari air. Tak terkecuali Ren yang heboh sendiri dengan senjata andalannya: bantal angin.

Puas snorkeling di Seibus, kami melipir ke surga lainnya -sebuah pulau gosong yang lengkap dengan burung-burung berwarna putih dan sebuah pondokan tua. Well, bayangkan saja gambar-gambar cantik di kartu pos. Saya tidak tahu pasti akan sejarah berdirinya pondok ini. Namun yang saya tahu pasti, menikmati makan siang di sini dengan pemandangan surgawi seperti ini, membuat menu rakyat jelata sekalipun terasa bak hidangan para raja. Sungguh! Dan di tempat ini, selain kita bisa berleha-leha dimanja angin pantai -lupakan Maldives yang mahal itu- atau sunbathing sampai kulit melepuh, snorkeling di perairan bawah pondok adalah sesuatu yang wajib dicoba. A die die must try!  Di spot yang juga surganya ikan badut ini, kita bisa merasakan sensasi berenang di antara ribuan school of fish yang bergerak kesana-kemari seperti angin puyuh. Keren!

taman firdaus [1]

taman firdaus [1]

taman firdaus [2]

taman firdaus [2]

gandhi

gandhi

 

taman firdaus [3]

taman firdaus [3]

taman firdaus [4]

taman firdaus [4]

school of fish

school of fish

 

 

 

yang di sana mana suaranya?

yang di sana mana suaranya?

 

 

burung-burung yang terusik

burung-burung yang terusik

 

ren

ren

 

pondok surga itu

pondok surga itu

 

[ala] cast away

[ala] cast away

[ala] majalah popular

[ala] majalah popular

sedang [tidak] menari saman

sedang [tidak] menari saman

 

keluarga kecil bahagia

keluarga kecil bahagia

 

ratu

bunda ratu

 

 

Hari beranjak sore. Sebelum melakukan snorkeling penutup di sekitar pulau Bangko -untuk kesejuta kalinya- kami memutuskan untuk mampir sebentar ke pulau Sapeken. Sebuah pulau kecil namun menyandang predikat sebagai pulau paling metropolis seantero Kangean. Tidak banyak yang kami lakukan di sini, toh tidak ada Inulvizta juga, kan. Hanya berbelanja logistik di salah satu toko kelontong yang tentunya paling hype se-Sapeken.

Di malam terakhir, kami menginap di Pajenayasem. Pemilik rumah yang kami inapi adalah seorang ibu muda yang hanya tinggal ditemani bayi, adik perempuan dan bapaknya. Dia bercerita, karena himpitan ekonomi, dia terpaksa merelakan sang suami merantau ke Malaysia menjadi TKI.  Sedih memang, potret buram kemiskinan yang menjerat mayoritas masyarakat Kangean yang hidup di antara limpahan potensi alamnya jelas-jelas menunjukkan betapa ironisnya negeri ini. Terlebih, di sini pulalah berdiri Kangean Energy Indonesia. Ah, semoga saja kehadiran kami malam itu bisa sedikit membuatnya tersenyum. Terlepas dari kegaduhan yang kita perbuat malam itu -apalagi kalau bukan karena permainan adu tolol ABC 5 Dasar- saya berharap, beberapa lembar rupiah yang memang tidak seberapa dari kami bisa sedikit meringankan beban hidupnya. Terus terang, tiga hari di Kangean tidak hanya membuat saya jatuh cinta akan pesona keindahan bawah lautnya. Lebih dari itu, saya merasa kotor dan hina. Betapa saya masih harus banyak belajar. Belajar tentang keikhlasan, tentang keramahan, tentang ketabahan, tentang kebersahajaan, dan juga tentang ketulusan. *mewek*

 

 

 

BIG thanks to Ade dan Ipon atas kontribusi foto-foto kerennya. Teman-teman atas keseruannya; Harry, Tesa, Gandhi, Mika, Ren. Dan Dyan atas usaha pantang menyerahnya menyusun itinerary dan mengatur segalanya. We love you.🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hiking Unyu ke Gunung Prau

[6-8 September 2013]

Saya masih ingat, dulu saya pernah bilang kalau untuk pergi ke daerah Dieng, Wonosobo saya belum berminat. Keberadaan candi-candi kuno yang berserakan dan pemandangan permai ladang kentang belum cukup menggugah ‘iman’ saya. Namun, saat teman saya -Dyan- menggoda saya dengan gambar-gambar gunung Prau, iman saya sontak goyah. Ya, saya memang pemuja lukisan Tuhan. Dan gambar-gambar pemandangan gunung Prau yang disodorkan Dyan ke saya itu teramat kurang ajar. Entah itu pemandangan milky way di malam hari yang ‘wow’, atau momen sunrise-nya yang Maha Aduhai. Meskipun saya sadar, bisa saja foto-foto itu hanya hasil editan, tetap saja keduanya berhasil menggelapkan mata hati saya, dan usil mengusik otak untuk mengambil keputusan,”Oke, gue pergi.” Menggenapi lima orang lainnya yang sudah lebih dulu mengamini rencana perjalanan ini. Tiga orang alumnus Merbabu [Dyan, Eggie dan Odi], serta dua teman baru: Kharisma dan Samuel.

Berkereta, kami berangkat jumat malam dari stasiun Pasar Senen, Jakarta menuju Purwokerto. Sepintas, rombongan kami mirip Arial dan kawan-kawan di film ‘5 Cm’ saat mereka juga berkereta menuju Malang untuk menggapai puncak Mahameru. Bukan secara fisik. Lagipula, di antara kami berenam tak seorang pun yang mempunyai kemiripan muka dengan tokoh2 di film itu. Tidak ada yang seganteng Arial, tidak ada yang se-charming Genta, tidak ada yang sekece Zafran. Tidak ada. Dan Dyan, satu-satunya cewek di rombongan kami pun secara kasat mata tak tampak sama sekali mirip Riani, apalagi seseksi Arinda. *keselek g-string*

Kemiripan yang saya maksud adalah perasaan antusias yang sama untuk mencumbu aroma gunung, dan well, sedikit drama ketika Eggie harus berlari terengah-engah menemani Samuel mengejar kereta yang sudah melaju pelan. Klasik, kekejian lalu-lintas Jakarta lah biang keladinya.

… …

Kami tiba di stasiun Purwokerto saat hari masih begitu dini. Dan tidak ada hal lain yang lebih indah untuk dilakukan selain melanjutkan mimpi. Tidur.

Perjalanan selanjutnya dari Purwokerto ke Wonosobo kami tempuh dengan mambajak angkot. Pilihan yang cukup bijak dibanding, katakanlah ngeteng naik bus, jika sewaktu-waktu kita ingin mampir berbelanja logistik ke pasar tradisional, membeli sarapan nasi bungkus seharga dua ribu rupiah[!], atau tiba-tiba harus pergi ke bilik ATM demi urusan pekerjaan -seperti saya. -__-“

Sekitar jam sepuluh pagi kami tiba di dataran tinggi Dieng dan disambut dengan udara sejuk yang memanjakan paru-paru. Hal pertama yang saya lakukan adalah menyisir jalan mencari toko perlengkapan mendaki. Beruntung, saya menemukan satu-satunya harta karun ini di dekat base camp. Bukan apa-apa, mau tidak mau saya harus menemukan matras pengganti [iya, matras saya ketinggalan di KRL. Puas?] untuk bisa tidur nyenyak dan mengurangi gigitan udara dingin yang konon kemarin sempat menembus angka tujuh di bawah nol derajat celcius. Mampus!

Setelah repacking, berganti kostum dan memanjatkan doa -oke, tidak lupa foto-foto juga- kami memulai pendakian unyu ini. Saya mengatakannya unyu karena, dibandingkan dengan pendakian-pendakian saya sebelumnya, episode pendakian ke puncak gunung Prau ini terbilang relatif ringan. Dengan ketinggian mencapai 2.560 meter dpl, saya ‘hanya’ butuh dua jam untuk melahap trek pendakian dari base camp sampai ke puncak. Itu pun sudah termasuk sesi tidur siang di pos tiga sambil nenanti beberapa teman yang masih tertinggal di belakang.

Suasana masih sepi saat kami tiba di puncak Prau. Hanya terlihat tiga tenda yang sudah didirikan beberapa pendaki yang tiba lebih dulu dari kami. Dan halimun yang tiba-tiba turun menawarkan aura syahdu -alih-alih mistis. Tidak ingin menunggu lama -karena badan sudah mulai mengigil kedinginan- kami memulai mencari lapak untuk mendirikan tenda. Dan demi menebus rasa lelah -setelah semuanya siap- kami memilih meringkuk di dalam kantong tidur masing-masing hingga maghrib menjelang.

… …

Gemerlap. Persis seperti gambar-gambar yang disodorkan Dyan ke saya kapan itu, pemandangan angkasa malam di puncak Prau ini sungguh mengagumkan. Cerah tanpa awan, kami bisa menikmati atraksi gelimang bintang yang berpendar-pendar menawan. Boleh dibilang, keseksian seperti ini hanya kalah sedikit, hanya sedikit, oleh langit malam Rinjani. Saat itu, saya bisa stargazing mengagumi jutaan bintang sembari berendam menghangatkan badan di kolam air panas yang terletak di sisi danau Segara Anak. Oh, itu benar-benar kemewahan yang tak tergantikan. Sekilas saya melihat bintang jatuh. Dan buru-buru memanjatkan harapan dalam hati: semoga Tuhan mengizinkan saya suatu saat bisa datang lagi ke sini, menikmati momen-momen indah seperti ini, tapi dengan sang belahan hati. *berharap diamini oleh jutaan pembaca blog ini :p*

Sepanjang sisa malam, saya habiskan waktu dengan menggalau bersama Kharisma dan Samuel, dan api unggun dengan nyala merana yang setia menemani dan menghangatkan kami bertiga. Kharisma yang galau karena selalu disindir oleh ibunya kapan kawin, dan saya yang lumayan gundah akan sindrom ‘hampir kepala tiga tapi masih begini-begini saja’. Sementara Samuel yang [merasa] paling muda lagi polos, cukup taat dengan menjadi pendengar curahan hati yang baik dari dua pemuda sahabatnya.

… …

Sunrise. Tidur yang hanya tiga jam -ya karena sibuk menggalau itu- tidak membuat saya malas bangun demi bisa menikmati momen matahari terbit di puncak Prau. Pukul lima pagi, tenda sudah gaduh dan semua orang ingin bergegas keluar. Tentu saja suasana di luar sudah riuh. Puluhan pendaki, atau bahkan mungkin ratusan -entahlah- sudah sibuk dengan kamera dan pose andalan masing-masing. Berusaha mengabadikan atraksi memukau matahari terbit yang muncul di antara empat gunung yang terlihat berjajar: Sumbing, Sindoro, Merapi dan Merbabu. Saya menyebutnya The Fantastic Four. Jangan tanya seperti apa keindahan yang terpampang di depan mata. Sempurna!

base camp

di base camp

sunrise [1]

sunrise

dua sejoli

dua sejoli

formasi lengkap [1]

formasi lengkap [1]

formasi lengkap [2]

formasi lengkap [2]

sebut saja Si Ganteng

sebut saja Si Ganteng

Bertemu Teman di Pulau Menjangan [Repost]

April 2011. Saya memulai roadtrip ini dari terminal Purabaya [atau orang sini kerap menyebutnya Bungurasih] Surabaya. Naik bus patas jurusan Surabaya-Denpasar, yang setelah proses tawar-menawar saya mendapat harga 115 ribu rupiah [termasuk jatah makan sekali] untuk tujuan Gilimanuk. Harga segitu saya pikir cukup pantas, karena saya dengar dari omelan penumpang sebelah, mereka ada yang kena 145 ribu rupiah sampai Denpasar [saya menduga harga resminya sekitar 130 ribu rupiah] atau seorang bapak tolol yang mau-maunya membayar 125 ribu cuma untuk sampai di Situbondo. Calo memang sungguh bertebaran di sini. Ya, saya tahu mereka juga mencari rezeki, tapi maaf, saya sedang tidak ingin menjadi pintu rezeki bagi mereka.

Ohya, saya sengaja memulai perjalanan ini malam hari supaya bisa tidur di perjalanan dan berharap begitu membuka mata sudah sampai di tujuan, atau setidaknya sudah dekat dengan tujuan. Lagipula, dengan siasat ini saya tidak perlu pusing-pusing memikirkan soal akomodasi.

Sabtu pagi, sekitar pukul 9 waktu Indonesia bagian tengah, saya tiba di Gilimanuk, tepatnya di pertigaan ‘entah apa namanya’. Dan tanpa menunggu berlama-lama, saya langsung dapat mobil elf yang akan membawa saya ke Mimpi Resort Menjangan -oke, maksud saya ke depan kompleks Mimpi Resort Menjangan ini. Dan di mobil elf inilah saya bertemu teman sesama pejalan, Adrian yang asal Spanyol. Nampaknya dalam tiga hari terakhir ini saya sedang berjodoh dengan orang Spanyol, setelah kemarin dalam pesawat saya dibuat ngakak total oleh ulah anak kecil blasteran Indo-Spanyol yang super lucu bernama Rodrigo. Bayangkan, anak kecil bermuka bule yang atraktif itu sepanjang penerbangan bersenandung lagu ‘kodok ngorek’, yang saya yakin banyak anak kecil yang bapak-ibunya jawa saja tidak hafal, atau bahkan tidak tahu lagu anak-anak berbahasa jawa ini.

Dan entah kebetulan atau apa, ternyata Adrian juga mempunyai niat yang sama dengan saya, yakni ingin snorkeling di pulau Menjangan. Hanya saja, dia terbentur masalah biaya. Dia akan mundur teratur jika harga sewa kapal untuk menyeberang ke pulau itu melebihi anggarannya. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, mengingat modal saya untuk datang ke sini cuma 500 ribu. Maklum, kita berdua sama-sama pejalan kere. Saya hanya pegawai rendahan di sebuah instansi pemerintah, sedang Adrian seorang pengangguran, setelah tidak lagi menjadi engineer. Korban resesi ekonomi katanya. Dan masih dari mulutnya dia bercerita, sekitar 32% angkatan kerja di negerinya hidup tanpa pekerjaan. Wew…

Keberadaan dermaga masih lumayan jauh dari Mimpi Resort Menjangan . Tapi toh tetap saja, kami lebih memilih berpegang teguh pada prinsip ekonomi, tetap berjalan kaki alih-alih menghiraukan suara-suara tukang ojeg yang meraung-raung menawarkan jasanya. #travelerkikir

Setibanya di dermaga -yang ternyata telah ramai dipenuhi oleh turis bule- kami menuju koperasi Banyumandi untuk tanya-tanya informasi soal tarif penyeberangan ke pulau Menjangan. Dan dari hasil kepo, saya tahu kalau koperasi milik warga ini lah yang menjadi operator penyeberangan, guide, sekaligus penyedia jasa peralatan snorkeling/ diving. Dan setelah tawar-menawar, kami mendapatkan harga 480 ribu rupiah all in; sewa perahu, 2 spot snorkeling, snorkeling equipment , jasa guide, dan asuransi. Cukup adil, Jadi saya dan Adrian hanya butuh patungan 240 ribu rupiah.

Snorkeling timeee…

Tadinya saya mengira, Adrian ini adalah tipikal turis bule kebanyakan -yang pernah saya temui- yang punya kemampuan snorkeling/diving yang mumpuni. Tahunya, ini adalah pengalaman melautnya yang kedua seumur hidup setelah sebelumnya mencoba snorkeling di Gili Air, Lombok. Ah, saya terlalu menjeneralisir rupanya.  Ya sudah lah, kalau begitu mari kita nikmati sama-sama keindahan bawah air pulau Menjangan ini sebagai seorang pemula, kawan.

Sebelum ini, saya hanya pernah merasakan snorkeling di perairan Karimunjawa, Pangandaran [ya ampun ini adalah snorkeling terabsurd, dimana kita snorkeling di antara puluhan perahu yang lalu-lalang di atas kepala. Lengah sedikit mampus lah kita], The Gilis, serta trio Gili Nanggu, Sudak dan Kedis. Semuanya cukup indah. Tapi setelah saya nyemplung di sini.., subhanallah… Di sini jauh lebih indah! Saya bisa melihat tigerfish sebesar ember, gurita, clownfish, dan berjenis-jenis ikan lain yang berwarna-warni berkeliaran di mana-mana. Terumbu karangnya juga masih sangat terawat dan beraneka ragam. Favorit saya adalah bagian slope coral-nya. Tebing curam yang dipenuhi terumbu karang. Didukung dengan cuaca tengah hari yang cerah, pengalaman yang saya dapat dari snorkeling kali ini terasa begitu mendebarkan.

Menghabiskan tiga jam dengan berenang kesana-kemari tentu saja membuat kami lapar. Tapi setelah melihat daftar harga makanan yang ada di rumah makan samping dermaga, kami berdua mendadak kenyang seketika. Dan daripada bersungut-sungut karena terpaksa membelanjakan 30 ribu rupiah kita yang berharga hanya demi sepiring nasi goreng telur, kami melipir ke warung remang-remang mie ayam pinggir jalan.  Dengan rakus saya melahap mie ayam murah meriah itu. Sementara Adrian, dia hanya menggeleng kurang tertarik saat saya menawarkan kuliner kaum proletar ini. Meskipun mata saya sudah berbinar-binar berpromosi kalau ini adalah mie ayam terlezat sedunia. Tetap saja dia menolak, sembari mengeluarkan bekal Sari Roti dan selai kacang dari dalam ranselnya. Dan berbalik menawarkan sebagian bekalnya kepada saya.Hehe…

Sore hari kami berpisah, dia melanjutkan petualangan ke Pemuteran dan saya memutuskan untuk kembali menyeberang ke pulau Jawa. Adios amigo…

Tadinya, selepas menikmati keindahan bawah laut pulau Menjangan, saya berniat untuk sekalian melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen. Tapi setelah membaca informasi yang ada di Lonely Planet milik Adrian, dan cerita Adrian sendiri yang memang sudah ke sana sehari sebelumnya, saya jadi agak malas. Transportasinya sungguh ribet. Otak-tidak-mau-sengsara saya pun mengatakan, untuk sebuah kawah dengan pengorbanan seperti itu tidak cukup worth it. Mungkin lain kali. Akhirnya saya mengambil keputusan final: pulang kampung ke Mojokerto.

Pelabuhan Ketapang. Cukup lama saya teronggok nista di sini. Gara-garanya saya kepedean mengira kalau masih ada kursi kosong di travel Cipaganti jurusan Banyuwangi-Surabaya. Nyatanya, sesampainya di gerai Cipaganti, saya mendapati kalau kursi sudah terisi penuh bahkan sejak dua hari sebelumnya. Mati!

Oke, anggap saja ini kesialan kecil. Saya cuma butuh menunggu bus patas jurusan Surabaya di pelabuhan Ketapang, sambil numpang mengisi baterai hape, sambil twitteran, sambil nongkrong bareng ibu-ibu penjual nasi. Simpel, kan? Kalau sebentar mungkin iya, tapi kalau sudah sampai 3 jam lebih menunggu dan belum ada satu pun bus yang saya harapkan muncul, saya senewen juga. Bukannya saya kesal, tapi saya dilanda kantuk yang teramat sangat. Dan yang saya inginkan saat itu  cuma segera mendapat bus dan tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Itu saja.

Akhirnya, dengan bantuan petugas pelabuhan yang baik hati saya mendapat tumpangan mobil pribadi  Kijang Innova, dengan harga setara bus dan dengan tingkat kenyamanan yang, hmm… oke juga. Mobil yang selega itu hanya diisi oleh pak sopir dan saya seorang. Enak, kan? Rasanya tidak sempat lah saya berpikir macam-macam saat itu -apakah orang ini penjahat kelamin atau sindikat pencucian otak- karena saya sudah terlalu ngantuk untuk itu.

Subuh buta saya tiba di terminal Purabaya, Surabaya. Dalam keadaan tanpa kurang suatu apapun. Kesucian saya [sepertinya sih] tetap terjaga, otak saya juga masih tetap sama seperti sedia kala, kotor adanya.

menuju pulau Menjangan

menuju pulau Menjangan

bersandar

bersandar

teman jalan, Adrian

teman jalan, Adrian

Surga Pelari Bernama MacRitchie [Reservoir]

Mei 2013. Agak nyeleneh memang, ketika kebanyakan pelancong pergi ke Singapura untuk merayakan hidup dengan menikmati wahana-wahana hiburan yang ada di Resort World Sentosa, berjudi di Marina Bay Sands,  atau berbelanja sampai mati di mall-mall trendi yang berserakan di penjuru negeri, saya justru memilih ‘menyepi’ ke tempat yang boleh di bilang luput dari radar para turis – MacRitchie Reservoir.

Terletak di jantung pulau Singapura, MacRitchie Reservoir tidak hanya berfungsi sebagai waduk belaka. Dilingkupi hutan hujan tropis yang cukup lebat -untuk ukuran Singapura tentunya- tempat ini ibarat oase bagi para pemuja kesunyian alam di antara hiruk-pikuknya kota yang seakan tak mengenal kata lelap. Selain memanjakan pengunjung dengan pemandangan hijaunya pepohonan, MacRitchie juga menyajikan beragam arena olahraga yang lumayan menarik.  Yang berduit bisa mencoba memainkan stik golfnya di sini. Oh, kayaking sudah tentu. Dan bagi para running junkie, patut mencoba boardwalks menembus pedalaman hutan dengan beragam pilihan jarak -mulai dari 3 km sampai yang terjauh 11 km.

Siang itu, di tengah riuhnya Orchard Road dan semerbak aroma toko yang menggoda, saya memutuskan berpisah dengan teman-teman. Karena, dari semua anggota rombongan, hanya saya seorang yang sepakat ingin pergi ke MacRicthie Reservoir. Sisanya, merasa masih cukup normal untuk memilih melampiaskan hasrat berbelanja ke IKEA.

Dari Orchard, saya hanya perlu satu kali naik bus 132 [tapi menghabiskan hampir satu jam menunggu karena salah halte #sigh] dan langsung turun di depan gerbang MacRitchie Reservoir. Tidak ada tiket masuk di sini. Alias gratis. Dilanda gairah, tanpa menunggu lama dan mempedulikan sengatan matahari yang saat itu sedang terik-teriknya, saya bergegas menuju locker room dan segera berganti kostum lari. Tidak banyak memang yang sudi berpanas-panasan lari siang itu. Tetapi sepi sekali juga tidak. Running buddies saya saat itu adalah beberapa ekspat yang nampak sudah cukup udzur tetapi berstamina ibarat kuda. Berlari bersama mereka membuat saya yang tertinggal jauh di belakang ini cuma seperti pecundang.

Waktu yang terbatas memaksa saya hanya bisa menikmati separuh dari rute yang ada. Tidak masalah. Toh, napas saya juga sudah tinggal satu-dua. Saya memutuskan untuk berhenti di Top Tree Walk, dan menikmati skyline MacRitchie dari jembatan gantung setinggi 25 meter dan panjang 250 meter ini. Syahdu. Selepas memanjakan mata dan memulihkan tenaga, saya kembali ber-trail running sejauh 4,5 km menuju titik start. Letih memang, tetapi tentu saja saya puas. Karena berlari di MacRitchie adalah angan-angan saya sejak lama, yang baru sekarang bisa terwujud. Ah, nampaknya saya jatuh hati pada MacRitchie.

Reservoir

Reservoir

 

Boardwalks

Boardwalks

Top Tree Walk

Top Tree Walk

 

Skyline

Skyline

Sleeping In Airport, Why Not?

Have a sweet dream :)

Have a sweet dream🙂

Kadang, di balik harga tiket pesawat promo yang murah terselip konsekuensi tersendiri. Katakanlah, seperti jadwal penerbangan yang kurang bersahabat – bisa jadi itu pagi buta atau tengah malam. Seperti yang saya alami kemarin saat balik dari mudik lebaran. Oke, membeli tiket pesawat secara dadakan apalagi saat menjelang lebaran memang perbuatan yang sangat tidak patut dicontoh. Terutama jika kita hanyalah golongan kelas menengah lapis bawah yang mendambakan tiket murah. Bengharap tiket pesawat gratis dengan mengumpulkan kupon belanja dari salah satu departemen store itu pun ternyata tidak selamanya bijak. Karena jatah yang saya pikir cukup banyak itu nyata-nyata ludes dalam sekejab.

Beruntung, saat itu masih ada maskapai penerbangan yang welas asih menyediaan kursi promo. Tidak begitu miring memang, tapi ya dengan harga segitu sudah bisa menghemat lumayan banyak.

Meskipun, dengan ini saya harus menerima kenyataan kalau dengan jadwal ketibaan di bandara Soekarno-Hatta dini hari, akan sulit mendapati bus damri tujuan Bekasi yang masih beroperasi. Dan benar saja, penantian saya sampai pukul 01.00 dini hari ternyata sia-tia. Bus damri terakhir tujuan Bekasi sudah berangkat, sebelum saya sampai di sini. Yang artinya: untuk ke sekian kalinya saya harus bermalam lagi di bandara. Tidak masalah.  Justru saya lebih mempermasalahkan kalau saja saat itu saya memilih naik taksi dari Cengkareng ke Bekasi. Karena maaf saja, mungkin harga diri ini tidak cukup untuk menebus angka argonya. #murah

Bicara soal menginap di bandara, saya adalah tipe pejalan yang bisa dibilang hobi bermalam di bandara – selain memang terbentur faktor ekonomi. Terakhir kali saya [sengaja] melakukannya adalah di Ninoi Aquino International Airport Manila, tahun lalu. Tidak seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya yang bisa tidur bebas di mana saja -bahkan saat di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh saya ditawari oleh petugasnya untuk tidur di conveyor belt [yang benar saja]- di sini para ‘airport sleeper’ dikumpulkan di salah satu sudut ruangan, setelah sebelumnya tiket kita dicek satu per satu untuk memastikan apakah kita ini calon penumpang atau bukan. Sungguh rempong.

Sementara untuk tempat tidur bandara favorit, saya – dan tentu saja jutaan orang di http://www.sleepinginairport.net – memilih Changi di Singapura yang serba nyaman dan segalanya ada. Sebenarnya Hongkong International Airport juga terbilang sangat oke untuk diinapi. Tapi berhubung kesan pertama saya dengan bandara ini sedikit horor, jadi ya.. mungkin lain kali. Dan untuk bandara paling kacrut, tidak ada yang bisa mengalahkan KLIA LCCT Kuala Lumpur. Susah sekali mencari space kosong untuk merebahkan diri di bandara ini. Saking ramainya.

Sedikit tips dari saya jika suatu saat terpaksa bermalam di bandara:

  • Ingin tidur tanpa perasaan gelisah? Ada baiknya anda menitipkan barang bawaan di tempat penitipan yang tersedia di area bandara. Pastikan pula bahwa saat itu tidak ada debt collector yang sedang mengejar-ngejar anda. #krik
  • Untuk kenyamanan, selalu sedia bantal portable, selimut atau sarung, earphone [jika tidak bisa tidur dalam kondisi berisik], kaos kaki dan jaket atau baju tebal. Atau jika ingin kenyamanan tidur anda paripurna, jangan pernah melupakan sleeping bag. Dijamin, tidur di lantai bandara pun akan terasa damai bak di kamar Amanwana. Well, setidaknya anggap saja seperti itu.