Meresapi Bandung Lewat Angklung

[10 April 2012]

photo(29)

Sejatinya banyak cara untuk menghabiskan libur panjang tiga hari kemarin itu. Mulai dari [yang berkantong tebal] memanjakan diri pelesir ke luar negeri, naik gunung bagi si mountain hiker, ‘mantai’ -pergi ke pantai- bagi yang merasa beach-fetish. Sampai yang paling mengenaskan: mengerak tiada guna di kamar kostan. Kamu, misalnya?

Saya sendiri, walaupun tanggal masih ranum-ranumnya, cukup bijak dengan memilih liburan yang sekiranya masih ramah di kantong saja. Melipir ke Bandung. Bukan apa-apa, meski judulnya masih tanggal muda, tapi tetap saja, rentetan tagihan saya sudah menanti di depan mata. Oke, ini mutlak salah saya karena bulan lalu saya biadab sekali belanja ini-itu memakai kartu kredit. Jadi ya, I deserve to get this punishment: berhemat di bulan berikutnya.*urek-urek tanah*

Kembali ke Bandung.

Nah, berhubung ini adalah liburan hemat, tentu saja saya tidak perlu memasukkan acara blusukan ke sentra distro atau wisata kuliner ke kafe-kafe mahal ke dalam itinerary saya. Tidak. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan di kota ini selain kalap belanja atau makan-makan. Salah satunya adalah… meresapi budayanya..

Cuihh!! Belagu banget!

Kebetulan sudah lama sekali saya ingin melihat pertunjukan ‘Bambu Petang’ yang tersohor itu. Namun, berkali-kali main ke kota ini, kesempatan itu selalu saja terlewati. Ya, lebih pantas dibilang sengaja dilewati, sih memang. Jadilah, pada edisi ke-sekian juta kali ini, saya mengkhususkan diri pergi ke daerah Padasuka di Bandung timur, ke tempat Saung Angklung Udjo berada.

Untuk masalah transportasi menuju ke sini, tidak begitu sulit. Saya cukup naik bus damri yang nyaman sekali jurusan Kebon Kelapa-Terminal Cicaheum dan turun di pertigaan sebelum terminal Cicaheum. Dari sini tinggal dilanjut jalan kaki sebentar ke saungnya yang terletak sedikit agak masuk gang. Atau jika kalian cukup manja tidak mau ribet naik transportasi massal, taksi di Bandung banyak.

Dan begitu sampai di depan tempat ini, entah kenapa saya langsung dilanda gairah. Bukan. Bukan libido saya yang mendadak naik lantaran melihat begitu banyak bambu berserakan, maksudnya. Cuma, mungkin karena saya yang memang dari dulu kesengsem sama budaya sunda [saya sendiri orang jawa], jadinya begitu menemukan tempat ini saya langsung jatuh cinta.

Sedikit info yang saya dapat, Saung Angklung Udjo didirikan pada tahun 1966 oleh almarhum Udjo Ngalagena. Merupakan sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni, labolatorium pendidikan, objek wisata budaya kelas dunia, plus pabrik angklung yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia. Wow!

Pertunjukan Bambu Petang.
Nah, inilah salah satu atraksi andalan dari tempat ini. And the show itself is about to begin. Dua pemandu acara yang terdiri dari mojang dan jajaka mulai masuk ke semacam amphitheater. Sementara deretan bangku penonton sudah terisi penuh sedari tadi. Sepertinya semua sudah tidak sabar lagi menanti. Termasuk saya sendiri.

Sebagai pembuka, disajikanlah pertunjukan wayang golek. Saya tidak tahu pasti lakon pada saat itu apa. Yang jelas ada Hanoman, Rahwana dan Si Cepot di sana.

Atraksi berikutnya: helaran. Penonton dikejutkan dengan kedatangan beberapa anak kecil yang berlari-lari riang sambil menari kuda lumping. Yang lalu diikuti oleh rombongan anak kecil yang lebih banyak lagi. Mereka menari, bernyanyi, bermain angklung, apapun. Kita yang menonton cuma bisa tertawa-tawa. Dan saya, tanpa terasa keluar air mata. Ikut bahagia melihat mereka begitu riang. Seolah, mereka tidak sedang terpaksa menghibur penonton, tapi bermain di dunianya. Dunia anak-anak yang [harusnya] senantiasa ceria dan tanpa beban.

Tari topeng mengisi sesi pertunjukan selanjutnya. Jangan tanya filosofinya apa, saya tidak tahu apa-apa soal tari asal Cirebon ini. Hanya satu yang saya tahu saat itu: seru.

Selesai tari topeng yang ditampilkan oleh tiga penari itu, kita dihibur dengan pertunjukan ARUMBA, yang ternyata kependekan dari Alunan Rumpun Bambu. Dan sungguh, saya benar-benar merinding saat mereka memainkan komposisi Peyeum Bandung dengan sangat indahnya.

Selanjutnya ada angklung mini yang dimainkan oleh anak-anak kecil. Sialan! Saya saja yang setua ini masih gelagapan main angklung, eh mereka yang masih balita gape bener megangnya.

Lalu dilanjut dengan angklung  Pa Daeng. Beberapa lagu daerah dari Bungong Jeumpa, Pak Ketipak Ketipung, Cublak-Cublak Suweng sampai Yamko Rambe Yamko  dimainkan secara medley yang, tentu saja berkali-kali disambut dengan tepuk tangan riuh penonton.

Bermain angklung bersama.
Nampaknya, para penampil tidak mau egois. Di sela-sela pertunjukan yang mereka sajikan, penonton pun diajak untuk bersama-sama memainkan angklung. Dipandu oleh seorang konduktor cilik yang merupakan anak dari pemilik saung, kita memainkan beberapa lagu. Sangat seru.

Angklung orkestra.
Bagi saya, boleh dibilang inilah klimaks dari seluruh rangkaian pertunjukan ‘Bambu Petang’ saat itu. Dikombinasikan dengan alat musik lain seperti gitar, drum, perkusi dan lain-lain, angklung dimainkan dalam sebuah orkestra yang grande.

Komposisi pertama, mereka memainkan We Are The World-nya Michael Jackson. Ajiiib!
Komposisi kedua, giliran Bohemian Rhapsody milik band legendaris Queen yang digubah citarasanya menjadi sunda pisan. Dan Ya Tuhan.., itu sungguh-sangat-keren-sekali! Maksud saya, ya, itu KEREN sekali! Ingin rasanya saya berteriak ke bule Belanda di samping saya saat itu,”Look at that, bitch! Look what Indonesia has just showed!” saking bangganya menjadi orang Indonesia.

Di akhir acara, anak-anak kecil tadi muncul kembali. Kali ini mereka mengajak para penonton untuk menari bersama-sama. Tua-muda, bule-lokal, semua melebur menjadi satu. Merekat. Tanpa sekat.
… … …

Iklan

8 thoughts on “Meresapi Bandung Lewat Angklung

  1. Adikku di bdg jg aktif main angklung orkestra, perform terakhirnya masuk tivi ramadhan in harmony with erwin gutawa orkestra. I’m a proud sister and proud to be (part) sundanese.

    1. wooooow! serius?!! keren banget! gw aja yg cuma nonton sampe merinding sendiri. besok insyaallah mau nonton konser angklung night tribute to the beatles. yihaaa!!!

      #sundaneseloper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s