Sleeping In Airport, Why Not?

Have a sweet dream :)
Have a sweet dream 🙂

Kadang, di balik harga tiket pesawat promo yang murah terselip konsekuensi tersendiri. Katakanlah, seperti jadwal penerbangan yang kurang bersahabat – bisa jadi itu pagi buta atau tengah malam. Seperti yang saya alami kemarin saat balik dari mudik lebaran. Oke, membeli tiket pesawat secara dadakan apalagi saat menjelang lebaran memang perbuatan yang sangat tidak patut dicontoh. Terutama jika kita hanyalah golongan kelas menengah lapis bawah yang mendambakan tiket murah. Bengharap tiket pesawat gratis dengan mengumpulkan kupon belanja dari salah satu departemen store itu pun ternyata tidak selamanya bijak. Karena jatah yang saya pikir cukup banyak itu nyata-nyata ludes dalam sekejab.

Beruntung, saat itu masih ada maskapai penerbangan yang welas asih menyediaan kursi promo. Tidak begitu miring memang, tapi ya dengan harga segitu sudah bisa menghemat lumayan banyak.

Meskipun, dengan ini saya harus menerima kenyataan kalau dengan jadwal ketibaan di bandara Soekarno-Hatta dini hari, akan sulit mendapati bus damri tujuan Bekasi yang masih beroperasi. Dan benar saja, penantian saya sampai pukul 01.00 dini hari ternyata sia-tia. Bus damri terakhir tujuan Bekasi sudah berangkat, sebelum saya sampai di sini. Yang artinya: untuk ke sekian kalinya saya harus bermalam lagi di bandara. Tidak masalah.  Justru saya lebih mempermasalahkan kalau saja saat itu saya memilih naik taksi dari Cengkareng ke Bekasi. Karena maaf saja, mungkin harga diri ini tidak cukup untuk menebus angka argonya. #murah

Bicara soal menginap di bandara, saya adalah tipe pejalan yang bisa dibilang hobi bermalam di bandara – selain memang terbentur faktor ekonomi. Terakhir kali saya [sengaja] melakukannya adalah di Ninoi Aquino International Airport Manila, tahun lalu. Tidak seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya yang bisa tidur bebas di mana saja -bahkan saat di bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh saya ditawari oleh petugasnya untuk tidur di conveyor belt [yang benar saja]- di sini para ‘airport sleeper’ dikumpulkan di salah satu sudut ruangan, setelah sebelumnya tiket kita dicek satu per satu untuk memastikan apakah kita ini calon penumpang atau bukan. Sungguh rempong.

Sementara untuk tempat tidur bandara favorit, saya – dan tentu saja jutaan orang di http://www.sleepinginairport.net – memilih Changi di Singapura yang serba nyaman dan segalanya ada. Sebenarnya Hongkong International Airport juga terbilang sangat oke untuk diinapi. Tapi berhubung kesan pertama saya dengan bandara ini sedikit horor, jadi ya.. mungkin lain kali. Dan untuk bandara paling kacrut, tidak ada yang bisa mengalahkan KLIA LCCT Kuala Lumpur. Susah sekali mencari space kosong untuk merebahkan diri di bandara ini. Saking ramainya.

Sedikit tips dari saya jika suatu saat terpaksa bermalam di bandara:

  • Ingin tidur tanpa perasaan gelisah? Ada baiknya anda menitipkan barang bawaan di tempat penitipan yang tersedia di area bandara. Pastikan pula bahwa saat itu tidak ada debt collector yang sedang mengejar-ngejar anda. #krik
  • Untuk kenyamanan, selalu sedia bantal portable, selimut atau sarung, earphone [jika tidak bisa tidur dalam kondisi berisik], kaos kaki dan jaket atau baju tebal. Atau jika ingin kenyamanan tidur anda paripurna, jangan pernah melupakan sleeping bag. Dijamin, tidur di lantai bandara pun akan terasa damai bak di kamar Amanwana. Well, setidaknya anggap saja seperti itu.
Iklan

2 thoughts on “Sleeping In Airport, Why Not?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s