Bertemu Teman di Pulau Menjangan [Repost]

April 2011. Saya memulai roadtrip ini dari terminal Purabaya [atau orang sini kerap menyebutnya Bungurasih] Surabaya. Naik bus patas jurusan Surabaya-Denpasar, yang setelah proses tawar-menawar saya mendapat harga 115 ribu rupiah [termasuk jatah makan sekali] untuk tujuan Gilimanuk. Harga segitu saya pikir cukup pantas, karena saya dengar dari omelan penumpang sebelah, mereka ada yang kena 145 ribu rupiah sampai Denpasar [saya menduga harga resminya sekitar 130 ribu rupiah] atau seorang bapak tolol yang mau-maunya membayar 125 ribu cuma untuk sampai di Situbondo. Calo memang sungguh bertebaran di sini. Ya, saya tahu mereka juga mencari rezeki, tapi maaf, saya sedang tidak ingin menjadi pintu rezeki bagi mereka.

Ohya, saya sengaja memulai perjalanan ini malam hari supaya bisa tidur di perjalanan dan berharap begitu membuka mata sudah sampai di tujuan, atau setidaknya sudah dekat dengan tujuan. Lagipula, dengan siasat ini saya tidak perlu pusing-pusing memikirkan soal akomodasi.

Sabtu pagi, sekitar pukul 9 waktu Indonesia bagian tengah, saya tiba di Gilimanuk, tepatnya di pertigaan ‘entah apa namanya’. Dan tanpa menunggu berlama-lama, saya langsung dapat mobil elf yang akan membawa saya ke Mimpi Resort Menjangan -oke, maksud saya ke depan kompleks Mimpi Resort Menjangan ini. Dan di mobil elf inilah saya bertemu teman sesama pejalan, Adrian yang asal Spanyol. Nampaknya dalam tiga hari terakhir ini saya sedang berjodoh dengan orang Spanyol, setelah kemarin dalam pesawat saya dibuat ngakak total oleh ulah anak kecil blasteran Indo-Spanyol yang super lucu bernama Rodrigo. Bayangkan, anak kecil bermuka bule yang atraktif itu sepanjang penerbangan bersenandung lagu ‘kodok ngorek’, yang saya yakin banyak anak kecil yang bapak-ibunya jawa saja tidak hafal, atau bahkan tidak tahu lagu anak-anak berbahasa jawa ini.

Dan entah kebetulan atau apa, ternyata Adrian juga mempunyai niat yang sama dengan saya, yakni ingin snorkeling di pulau Menjangan. Hanya saja, dia terbentur masalah biaya. Dia akan mundur teratur jika harga sewa kapal untuk menyeberang ke pulau itu melebihi anggarannya. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama, mengingat modal saya untuk datang ke sini cuma 500 ribu. Maklum, kita berdua sama-sama pejalan kere. Saya hanya pegawai rendahan di sebuah instansi pemerintah, sedang Adrian seorang pengangguran, setelah tidak lagi menjadi engineer. Korban resesi ekonomi katanya. Dan masih dari mulutnya dia bercerita, sekitar 32% angkatan kerja di negerinya hidup tanpa pekerjaan. Wew…

Keberadaan dermaga masih lumayan jauh dari Mimpi Resort Menjangan . Tapi toh tetap saja, kami lebih memilih berpegang teguh pada prinsip ekonomi, tetap berjalan kaki alih-alih menghiraukan suara-suara tukang ojeg yang meraung-raung menawarkan jasanya. #travelerkikir

Setibanya di dermaga -yang ternyata telah ramai dipenuhi oleh turis bule- kami menuju koperasi Banyumandi untuk tanya-tanya informasi soal tarif penyeberangan ke pulau Menjangan. Dan dari hasil kepo, saya tahu kalau koperasi milik warga ini lah yang menjadi operator penyeberangan, guide, sekaligus penyedia jasa peralatan snorkeling/ diving. Dan setelah tawar-menawar, kami mendapatkan harga 480 ribu rupiah all in; sewa perahu, 2 spot snorkeling, snorkeling equipment , jasa guide, dan asuransi. Cukup adil, Jadi saya dan Adrian hanya butuh patungan 240 ribu rupiah.

Snorkeling timeee…

Tadinya saya mengira, Adrian ini adalah tipikal turis bule kebanyakan -yang pernah saya temui- yang punya kemampuan snorkeling/diving yang mumpuni. Tahunya, ini adalah pengalaman melautnya yang kedua seumur hidup setelah sebelumnya mencoba snorkeling di Gili Air, Lombok. Ah, saya terlalu menjeneralisir rupanya.  Ya sudah lah, kalau begitu mari kita nikmati sama-sama keindahan bawah air pulau Menjangan ini sebagai seorang pemula, kawan.

Sebelum ini, saya hanya pernah merasakan snorkeling di perairan Karimunjawa, Pangandaran [ya ampun ini adalah snorkeling terabsurd, dimana kita snorkeling di antara puluhan perahu yang lalu-lalang di atas kepala. Lengah sedikit mampus lah kita], The Gilis, serta trio Gili Nanggu, Sudak dan Kedis. Semuanya cukup indah. Tapi setelah saya nyemplung di sini.., subhanallah… Di sini jauh lebih indah! Saya bisa melihat tigerfish sebesar ember, gurita, clownfish, dan berjenis-jenis ikan lain yang berwarna-warni berkeliaran di mana-mana. Terumbu karangnya juga masih sangat terawat dan beraneka ragam. Favorit saya adalah bagian slope coral-nya. Tebing curam yang dipenuhi terumbu karang. Didukung dengan cuaca tengah hari yang cerah, pengalaman yang saya dapat dari snorkeling kali ini terasa begitu mendebarkan.

Menghabiskan tiga jam dengan berenang kesana-kemari tentu saja membuat kami lapar. Tapi setelah melihat daftar harga makanan yang ada di rumah makan samping dermaga, kami berdua mendadak kenyang seketika. Dan daripada bersungut-sungut karena terpaksa membelanjakan 30 ribu rupiah kita yang berharga hanya demi sepiring nasi goreng telur, kami melipir ke warung remang-remang mie ayam pinggir jalan.  Dengan rakus saya melahap mie ayam murah meriah itu. Sementara Adrian, dia hanya menggeleng kurang tertarik saat saya menawarkan kuliner kaum proletar ini. Meskipun mata saya sudah berbinar-binar berpromosi kalau ini adalah mie ayam terlezat sedunia. Tetap saja dia menolak, sembari mengeluarkan bekal Sari Roti dan selai kacang dari dalam ranselnya. Dan berbalik menawarkan sebagian bekalnya kepada saya.Hehe…

Sore hari kami berpisah, dia melanjutkan petualangan ke Pemuteran dan saya memutuskan untuk kembali menyeberang ke pulau Jawa. Adios amigo…

Tadinya, selepas menikmati keindahan bawah laut pulau Menjangan, saya berniat untuk sekalian melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen. Tapi setelah membaca informasi yang ada di Lonely Planet milik Adrian, dan cerita Adrian sendiri yang memang sudah ke sana sehari sebelumnya, saya jadi agak malas. Transportasinya sungguh ribet. Otak-tidak-mau-sengsara saya pun mengatakan, untuk sebuah kawah dengan pengorbanan seperti itu tidak cukup worth it. Mungkin lain kali. Akhirnya saya mengambil keputusan final: pulang kampung ke Mojokerto.

Pelabuhan Ketapang. Cukup lama saya teronggok nista di sini. Gara-garanya saya kepedean mengira kalau masih ada kursi kosong di travel Cipaganti jurusan Banyuwangi-Surabaya. Nyatanya, sesampainya di gerai Cipaganti, saya mendapati kalau kursi sudah terisi penuh bahkan sejak dua hari sebelumnya. Mati!

Oke, anggap saja ini kesialan kecil. Saya cuma butuh menunggu bus patas jurusan Surabaya di pelabuhan Ketapang, sambil numpang mengisi baterai hape, sambil twitteran, sambil nongkrong bareng ibu-ibu penjual nasi. Simpel, kan? Kalau sebentar mungkin iya, tapi kalau sudah sampai 3 jam lebih menunggu dan belum ada satu pun bus yang saya harapkan muncul, saya senewen juga. Bukannya saya kesal, tapi saya dilanda kantuk yang teramat sangat. Dan yang saya inginkan saat itu  cuma segera mendapat bus dan tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Itu saja.

Akhirnya, dengan bantuan petugas pelabuhan yang baik hati saya mendapat tumpangan mobil pribadi  Kijang Innova, dengan harga setara bus dan dengan tingkat kenyamanan yang, hmm… oke juga. Mobil yang selega itu hanya diisi oleh pak sopir dan saya seorang. Enak, kan? Rasanya tidak sempat lah saya berpikir macam-macam saat itu -apakah orang ini penjahat kelamin atau sindikat pencucian otak- karena saya sudah terlalu ngantuk untuk itu.

Subuh buta saya tiba di terminal Purabaya, Surabaya. Dalam keadaan tanpa kurang suatu apapun. Kesucian saya [sepertinya sih] tetap terjaga, otak saya juga masih tetap sama seperti sedia kala, kotor adanya.

menuju pulau Menjangan
menuju pulau Menjangan
bersandar
bersandar
teman jalan, Adrian
teman jalan, Adrian
Iklan

6 thoughts on “Bertemu Teman di Pulau Menjangan [Repost]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s