Hiking Unyu ke Gunung Prau

[6-8 September 2013]

Saya masih ingat, dulu saya pernah bilang kalau untuk pergi ke daerah Dieng, Wonosobo saya belum berminat. Keberadaan candi-candi kuno yang berserakan dan pemandangan permai ladang kentang belum cukup menggugah ‘iman’ saya. Namun, saat teman saya -Dyan- menggoda saya dengan gambar-gambar gunung Prau, iman saya sontak goyah. Ya, saya memang pemuja lukisan Tuhan. Dan gambar-gambar pemandangan gunung Prau yang disodorkan Dyan ke saya itu teramat kurang ajar. Entah itu pemandangan milky way di malam hari yang ‘wow’, atau momen sunrise-nya yang Maha Aduhai. Meskipun saya sadar, bisa saja foto-foto itu hanya hasil editan, tetap saja keduanya berhasil menggelapkan mata hati saya, dan usil mengusik otak untuk mengambil keputusan,”Oke, gue pergi.” Menggenapi lima orang lainnya yang sudah lebih dulu mengamini rencana perjalanan ini. Tiga orang alumnus Merbabu [Dyan, Eggie dan Odi], serta dua teman baru: Kharisma dan Samuel.

Berkereta, kami berangkat jumat malam dari stasiun Pasar Senen, Jakarta menuju Purwokerto. Sepintas, rombongan kami mirip Arial dan kawan-kawan di film ‘5 Cm’ saat mereka juga berkereta menuju Malang untuk menggapai puncak Mahameru. Bukan secara fisik. Lagipula, di antara kami berenam tak seorang pun yang mempunyai kemiripan muka dengan tokoh2 di film itu. Tidak ada yang seganteng Arial, tidak ada yang se-charming Genta, tidak ada yang sekece Zafran. Tidak ada. Dan Dyan, satu-satunya cewek di rombongan kami pun secara kasat mata tak tampak sama sekali mirip Riani, apalagi seseksi Arinda. *keselek g-string*

Kemiripan yang saya maksud adalah perasaan antusias yang sama untuk mencumbu aroma gunung, dan well, sedikit drama ketika Eggie harus berlari terengah-engah menemani Samuel mengejar kereta yang sudah melaju pelan. Klasik, kekejian lalu-lintas Jakarta lah biang keladinya.

… …

Kami tiba di stasiun Purwokerto saat hari masih begitu dini. Dan tidak ada hal lain yang lebih indah untuk dilakukan selain melanjutkan mimpi. Tidur.

Perjalanan selanjutnya dari Purwokerto ke Wonosobo kami tempuh dengan mambajak angkot. Pilihan yang cukup bijak dibanding, katakanlah ngeteng naik bus, jika sewaktu-waktu kita ingin mampir berbelanja logistik ke pasar tradisional, membeli sarapan nasi bungkus seharga dua ribu rupiah[!], atau tiba-tiba harus pergi ke bilik ATM demi urusan pekerjaan -seperti saya. -__-“

Sekitar jam sepuluh pagi kami tiba di dataran tinggi Dieng dan disambut dengan udara sejuk yang memanjakan paru-paru. Hal pertama yang saya lakukan adalah menyisir jalan mencari toko perlengkapan mendaki. Beruntung, saya menemukan satu-satunya harta karun ini di dekat base camp. Bukan apa-apa, mau tidak mau saya harus menemukan matras pengganti [iya, matras saya ketinggalan di KRL. Puas?] untuk bisa tidur nyenyak dan mengurangi gigitan udara dingin yang konon kemarin sempat menembus angka tujuh di bawah nol derajat celcius. Mampus!

Setelah repacking, berganti kostum dan memanjatkan doa -oke, tidak lupa foto-foto juga- kami memulai pendakian unyu ini. Saya mengatakannya unyu karena, dibandingkan dengan pendakian-pendakian saya sebelumnya, episode pendakian ke puncak gunung Prau ini terbilang relatif ringan. Dengan ketinggian mencapai 2.560 meter dpl, saya ‘hanya’ butuh dua jam untuk melahap trek pendakian dari base camp sampai ke puncak. Itu pun sudah termasuk sesi tidur siang di pos tiga sambil nenanti beberapa teman yang masih tertinggal di belakang.

Suasana masih sepi saat kami tiba di puncak Prau. Hanya terlihat tiga tenda yang sudah didirikan beberapa pendaki yang tiba lebih dulu dari kami. Dan halimun yang tiba-tiba turun menawarkan aura syahdu -alih-alih mistis. Tidak ingin menunggu lama -karena badan sudah mulai mengigil kedinginan- kami memulai mencari lapak untuk mendirikan tenda. Dan demi menebus rasa lelah -setelah semuanya siap- kami memilih meringkuk di dalam kantong tidur masing-masing hingga maghrib menjelang.

… …

Gemerlap. Persis seperti gambar-gambar yang disodorkan Dyan ke saya kapan itu, pemandangan angkasa malam di puncak Prau ini sungguh mengagumkan. Cerah tanpa awan, kami bisa menikmati atraksi gelimang bintang yang berpendar-pendar menawan. Boleh dibilang, keseksian seperti ini hanya kalah sedikit, hanya sedikit, oleh langit malam Rinjani. Saat itu, saya bisa stargazing mengagumi jutaan bintang sembari berendam menghangatkan badan di kolam air panas yang terletak di sisi danau Segara Anak. Oh, itu benar-benar kemewahan yang tak tergantikan. Sekilas saya melihat bintang jatuh. Dan buru-buru memanjatkan harapan dalam hati: semoga Tuhan mengizinkan saya suatu saat bisa datang lagi ke sini, menikmati momen-momen indah seperti ini, tapi dengan sang belahan hati. *berharap diamini oleh jutaan pembaca blog ini :p*

Sepanjang sisa malam, saya habiskan waktu dengan menggalau bersama Kharisma dan Samuel, dan api unggun dengan nyala merana yang setia menemani dan menghangatkan kami bertiga. Kharisma yang galau karena selalu disindir oleh ibunya kapan kawin, dan saya yang lumayan gundah akan sindrom ‘hampir kepala tiga tapi masih begini-begini saja’. Sementara Samuel yang [merasa] paling muda lagi polos, cukup taat dengan menjadi pendengar curahan hati yang baik dari dua pemuda sahabatnya.

… …

Sunrise. Tidur yang hanya tiga jam -ya karena sibuk menggalau itu- tidak membuat saya malas bangun demi bisa menikmati momen matahari terbit di puncak Prau. Pukul lima pagi, tenda sudah gaduh dan semua orang ingin bergegas keluar. Tentu saja suasana di luar sudah riuh. Puluhan pendaki, atau bahkan mungkin ratusan -entahlah- sudah sibuk dengan kamera dan pose andalan masing-masing. Berusaha mengabadikan atraksi memukau matahari terbit yang muncul di antara empat gunung yang terlihat berjajar: Sumbing, Sindoro, Merapi dan Merbabu. Saya menyebutnya The Fantastic Four. Jangan tanya seperti apa keindahan yang terpampang di depan mata. Sempurna!

base camp
di base camp
sunrise [1]
sunrise

dua sejoli
dua sejoli

formasi lengkap [1]
formasi lengkap [1]
formasi lengkap [2]
formasi lengkap [2]

sebut saja Si Ganteng
sebut saja Si Ganteng
Iklan

11 thoughts on “Hiking Unyu ke Gunung Prau

  1. Suit suit suit…. aku pas malam di perahu juga sibuk gegalauan. :)) malah bisa dibilang efek galau dilepas di sini. :))

  2. AMIIIIINNNN KEK AMIIIIINNNNNNNNN JODOHNYA SEGERA DATANG
    *pose doa khusyuk sekhusyuk-khusyuknya ala Fitri tropica*

    nggak pedulu sunrise cantiknya kayak apa yg penting istrinya sholihah
    *ambil gitar buntung nyanyi istri yang sholihah sama bang haji dan angel lelga*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s