Memori Romantisme Makau

[Oktober 2011]

Hari ini adalah jadwal saya menyeberang ke Makau setelah dua hari berkeliling Hongkong. Kalau ada yang tanya,“Ah tapi kan lo belum ke Disney Land-nya, masuk museum lilin Madam Tussaud juga belum. Nyobain naik cable car ke patung Buddha yang segede dosa itu apalagi.” Ya lalu kenapa? Setiap momen perjalanan selayaknya menjadi urusan yang sangat personal, dan tidak harus mengikuti segala hal yang ditawarkan guide book. Kalau ke daerah ini harus mencoba ini, makan di restoran itu atau merasakan wahana anu. Tidak. Setiap pejalan mempunyai hak untuk merayakan perjalanannya masing-masing. Dan memang seharusnya begitu. *alibi dari seorang pejalan kere*

Ngomong-ngomong, pelabuhan penyeberangannya keren juga. Terletak di dalam mall yang trendi, dengan lantai licin, interior oke, ada fasilitas lift dan segalanya *mendadak norak* yang niscaya akan membuat pelanggan setia pelabuhan Merak sakit hati jika melihatnya.

Tidak ingin repot di belakang, sebelum membeli tiket kapal saya memutuskan untuk menukarkan sisa terakhir beberapa lembar dolar hongkong ke mata uang lokal Makau -pataca. Alih-alih berpikir panjang untuk berkeliling agar mendapatkan harga yang paling sesuai, mata saya tertuju pada sebuah kios penukaran valas  yang dijaga oleh gadis manis berwajah mirip Freida Pinto. Saya pun mendekati kios itu, dan mengamati daftar nilai tukar valas yang dijual. Hmm… not bad.

Sekilas, kami larut dalam obrolan singkat yang menyenangkan dan ya, sedikit mengejutkan. Setelah beberapa pertanyaan standar seperti ‘dari mana’, ‘mau kemana’, ‘mau ngapain’, akhirnya dengan mimik ‘ealah-rek-tibake-tonggo dhewe-tah’ dia bilang,“Eh, Mas, aku juga dari Indonesia lho. Dari Madiun.”

*kemudian hening*

Entahlah, tapi rasanya saya hanya ingin mengunyah lembaran-lembaran pataca saja saat itu. Maksud saya, ayolah.. saya sudah bersusah payah terlihat ganteng dengan belepotan ngobrol menggunakan bahasa inggris -yah walaupun itu tidak banyak membantu- dan ternyata di akhir cerita ternyata lawan bicara kita adalah orang jawa juga itu sungguh menyebalkan.

Ternyata awalnya dia mengira saya ini pinoy. Dan bodohnya saya juga mengira dia bukan orang Indonesia. Batin sotoy saya mengatakan, mungkin Malaysia atau juga Filipina. Namun, justru dari sinilah obrolan kami berdua makin intim. Dia bercerita banyak tentang kehidupan barunya di negeri orang. Mulai dari mendapat status permanent resident, pekerjaan yang lumayan dengan bos [arab bo’] yang baik hati, sampai acara liburan rutinnya nonton gelaran MotoGP di Sepang, Malaysia. Mungkin karena dia yang begitu bersemangat bercerita, tanpa sadar saya pun ikut-ikutan senang mendengarnya. Setidaknya, dari kisahnya saya tahu bahwa tak selamanya kawan-kawan TKI bernasib suram.

Singkat cerita, keasyikan obrolan kami meski terhenti karena terbatasnya waktu. Sebelum bergegas ke gerbang imigrasi, saya melambaikan tangan dan melempar senyum selamat tinggal termaut saya padanya. Oh, tanpa embel-embel janji one night stand tentu saja.

Saya bersyukur proses imigrasi kali ini berjalan lancar-lancar saja. Tidak ada kejadian menegangkan  seperti saat saya baru tiba di bandara internasional Hongkong kemarin itu. Meskipun berakhir melegakan, tetap saja ransel digeledah dan diinterogasi layaknya seorang tertuduh begitu membuat saya sempat lemas juga. Hanya pertanyaan kecil dari salah seorang petugas yang sedikit bingung dengan nama saya.“Kamu tidak punya marga? Masa sih? Marga seperti punya saya ini?”, tanyanya kekeuh sambil menunjuk ke nama dadanya.

Mengingat jaraknya yang cuma ‘sepelemparan beha’, perjalanan laut dari Hongkong ke Makau terbilang cukup singkat, hanya butuh kurang lebih satu jam. Dan teman sebangku saya kali ini adalah seorang nenek-nenek ramah. Ingin hati ngobrol panjang lebar, hati ke hati dengannya. Namun apa daya, keterbatasan bahasa nyata-nyata telah menciptakan jurang pemisah di antara kita. *ini apa deh?*  Saat dia menanyakan apa saya jawabnya apa. Dan saat saya tanya balik apa dia juga jawab apa. Ga nyambung. Begitu saja terus sampai saya senewen sendiri. Dan mungkin dia juga. Menyadari bahwa sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kita, akhirnya kami menyudahi percakapan absurd ini. Si nenek memilih tidur, dan saya asyik dengan gadget saya.

Saya tiba di Macau Ferry Terminal tengah hari, tepat saat cuaca sedang panas-panasnya. Tanpa berlama-lama, saya mencari shutte bus untuk menuju pusat kota. Ada banyak sekali shuttle bus tersedia di sini, dengan rute-rute strategis seperti rute ferry terminal-hotel/kasino-bandara dan lainnya. Dan semuanya gratis! Tentu saja fasilitas ini begitu memanjakan pejalan bersahaja, seperti saya. Selebihnya, saya memilih berjalan kaki untuk mengeksplorasi keindahan negeri yang kental akan nuansa klasik ini -yang luasnya tak lebih dari 30 km persegi.

Augusters Lodge. Hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di pusat kota adalah mencari penginapan ini. Menurut buku panduan yang saya imani, penginapan ini terletak di rua [jalan kecil] do Dr.Pedro Jose Lobo. Andai mata jeli, mudah saja menemukan lodge mungil yang letaknya di tengah-tengah deretan ruko ini. Sayang, saya tidak mempunyai tipe mata seperti itu. Entah berapa kali saya mondar-mandir di daerah itu, membuang-buang waktu hanya demi menemukan plang bertuliskan ‘Augusters Lodge’.

Jika urusan transportasi saya mengandalkan shuttle bus gratis dan jalan kaki, maka untuk urusan akomodasi saya mengandalkan faktor hoki. Alih-alih memesan secara online jauh-jauh hari, saya datang ke Augusters Lodge hanya sebagai walk-in customer. Angela, si resepsionis, bilang kalau tidak lagi bed kosong. Namun dengan baik hati dia menawarkan kasur lipat dan bisa tidur di ruang resepsionis seharga 60 pataca, kalau saya mau. Yang benar saja, sudah pasti saya mau. Apalagi [masih] menurut buku panduan, dengan fasilitas yang sama si penulis harus membayar 125 pataca. Kasur lipat, tidur di ruang resepsionis: 125 pataca. Dan saya, hanya perlu membayar setengahnya. Hahaha…

Mendapat tempat ‘spesial’ di ruang resepsionis, mau tidak mau membuat saya jadi banyak ngobrol dengan Angela. Ya, Angela memang tipe resepsionis yang ramah dan sangat suka ngobrol. Bahkan kadang -entah keceplosan atau apa- terselip sedikit curcol seolah saya ini sahabat lamanya yang hilang. Selain Angela, teman ngobrol saya saat itu adalah sesama tamu. Jaymi yang asal Filipina dan Kwan, gadis tomboi asal Hongkong.

Senado Square.  Sepanjang sore saya menghabiskan waktu dengan kongkow ganteng di melting point paling hype ini, dan keluar masuk menyusuri gang-gang kecil [travessa] yang eksotis dengan jalan batu dan sekuter-sekuternya, sambil tanpa risih mampir dari satu toko ke toko lain untuk nyemilin sampel kue. Tak ketinggalan mengunjungi situs-situs kuno yang selama ini menjadi daya tarik wisata Makau -selain kasino tentunya. Entah ada berapa lusin situs bersejarah yang berserakan di sekitar Senado Square. Namun beberapa yang menarik perhatian saya adalah Catedral,  gereja St. Dominic dan tentu saja sang landmark, ruins of St. Paul. Sungguh, bangunan bekas gereja yang hanya menyisakan bagian fasadnya ini mau dilihat dari sisi manapun dan kapanpun tetap saja eksotis.

Senado Square
Senado Square
Senado Square
Senado Square
Catedral
Catedral

Satu hal yang saya suka dari traveling adalah getting new friend. Seperti malam itu, setelah sok iyes keluar masuk kasino -saat sedang menikmati baca-baca di pelataran Catedral- tiba-tiba Jaymi dan Kwan menghampiri, mengajak saya untuk ikut bergabung bersama teman barunya. Tidak perlu pikir panjang untuk mengamini ajakan ini.  Karena jelas, hangout bersama teman-teman baru bakal jauh lebih seru ketimbang sekadar membaca buku.

Dan malam itu saya kembali mendapat dua teman baru, Andrey pemuda Rusia yang sedang tergila-gila dengan negara China dan Lisa dari Jerman -yang lucunya, sedikit sinis terhadap China. Berempat, hanya bermodalkan cemilan dan minuman yang kita beli ramai-ramai di sebuah supermarket ‘rahasia’ yang ditemukan Kwan, kami nongkrong dari satu tempat ke tempat lain, sepanjang malam hingga pagi menjelang.

Tempat pertama yang kita satroni adalah ruin of St. Paul. Melihat keakraban kita, mungkin orang tidak akan mengira kalau kami ini hanyalah sesama pejalan yang baru saja saling mengenal hari itu -bahkan dua di antaranya baru kenal beberapa menit sebelumnya. Tapi begitulah kenyataannya, kita mengobrol banyak sekali hal. Dari yang sok mendiskusikan persoalan dunia seolah kami adalah para delegasi PBB sampai bercerita tentang negara masing-masing. Seperti anak SD, kami duduk melingkar dan bergiliran cerita satu persatu. Seru. Ngobrol tentang agama juga. Oh, tentu saja bukan debat. Semua sepakat kalau kami benci debat. Hanya saja mereka begitu penasaran dengan islam lantaran malam itu, dari kita berlima cuma saya seorang yang tidak ikutan ngebir -malah dengan imutnya memilih minum susu coklat. Saya jelaskan, bahwa di islam mengonsumsi minuman beralkohol itu haram, begitu juga daging babi. Dari situ, mereka semakin tertarik dan berlanjut dengan berbagai pertanyaan lain tentang islam. Di satu sisi saya senang bisa sedikit mengampanyekan islam ke teman-teman yang berlatar belakang keyakinan berbeda, secara positif. Begitu juga mereka, tidak ada sama sekali yang merasa sok benar, apalagi menghakimi. Namun di sisi lain, kok rasanya beban moral juga. Mengingat selama ini saya tak lebih dari seorang pendosa belaka.

Dingin malam dan waktu seolah tidak terasa malam itu, berkat obrolan-obrolan seru dan candaan-candaan konyol yang sukses bikin perut kram. Untuk hal yang satu ini, Andrey lah sang jawara dengan banyolan-banyolan ajaibnya. Hanya satu hal yang membuat kami terpaksa beranjak dari tempat ini: semakin malam semakin banyak anjing.

Dari St. Paul, kami memutuskan untuk melanjutkan obrolan yang belum tuntas ini di teras Catedral. Haha-hihi lagi sampai mulut berbuih, dan asyik ngebir tanpa perasaan sungkan dengan patung Isa Almasih yang berdiri bersahaja di depan kami. Dan kali ini yang membuat kami terpaksa berdiri dari sini adalah rasa lapar yang melanda. Kami membeli penganan -semacam siomay namun berbumbu cuka- dan dimakan beramai-ramai di taman kota, yang sekaligus menjadi ‘last supper’ bagi kami. Karena di sinilah, pagi itu, dengan perasaan sedih -dan ngantuk- kami semua harus berpisah. Setelah mencatat alamat email masing-masing, saling memberikan pelukan perpisahan, saya, Jaymi dan Kwan kembali ke Augusters lodge, sementara Andrey dan Lisa ke penginapannya. Ah, sungguh saya menyukai pertemuan tak terduga ini. Menukil istilahnya Kwan, we’re met by the fate.

not strangers anymore
not strangers anymore

macau2 macau3

Hari kedua saya berencana pergi ke daerah Taipa untuk mengunjungi mall-mall mahagede The Venetian dan City of Dream, sebelum terbang kembali ke Kuala Lumpur malam harinya. Namun rencana tinggalah rencana, karena kecapean, sepagian saya cuma duduk-duduk malas di Senado Square sambil mengamati orang lalu-lalang sampai akhirnya laku bosan sendiri.

Siangnya saya mampir ke kedai Margaret’s cafe e natta yang konon menjual kue egg tart terlezat seantero Makau. Gigitan pertama saat itu sekaligus menjadi pengalaman pertama saya mencicipi kue lezat khas portugis ini. Beruntung salah satu toko roti di bilangan R.E Martadina, Bandung juga menjual egg tart dengan citarasa yang lumayan mirip. Jadi, jika sudah merasa rindu akan romantisme Makau, saya cukup rendevouz ke sini.

Menyusuri The Venetian sore harinya menjadi penutup perjalanan saya di Makau. Tidak banyak yang saya lakukan di sini, selain mondar-mandir mengagumi arsitekturnya dan kanal-kanal buatan yang lengkap dengan gondolanya. Sedikit hiperbola, saya sampai tidak sedang berada di belahan bumi Asia, melainkan Italia. Belum lagi ditambah efek nyanyian pengemudi gondola yang bersuara sopran itu. Beuh… bikin merinding. Melirik sedikit, itu Patricio Buane bukan, ya?

Ah, ternyata sipit juga.

Gondola di The Venetian
Gondola di The Venetian
Macau Tower
Macau Tower

Macau International Airport. Lagi-lagi, karena luas negara Makau yang tidak seberapa saya hanya perlu berjalan kaki sebentar dari The Venetian untuk sampai di bandara ini.  Di dalam boarding lounge, sambil menunggu penerbangan ke Kuala Lumpur saya masih senyum-senyum sendiri mengingat dua hari terakhir yang menyenangkan ini. Betapa saya menyukai negeri mini ini, bangunan-bangunan tuanya, travessa-nya, makanannya. Dan tentu saja orang-orang menyenangkan yang saya jumpai.

Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul
Ruins of St. Paul

Iklan

2 thoughts on “Memori Romantisme Makau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s